SERVICE
TRANSACTION, SERVICE OPERATION, CONTINUAL SERVICE IMPROVEMENT, DEMAND
MANAGEMENT.
Download Disini :
Senin, 25 April 2016
Rabu, 30 Desember 2015
Pengertian Fungsi Budaya Organisasi
Softskill Tugas III.
1. Pengertian
dan fungsi budaya organisasi
2. Perubahan
dan pengembang organisasi
3. Perencanaan
strategi pengembang organisasi
Jawab :
1.Pengertian Budaya Organisasi.
Budaya organisasi adalah sebuah sistem makna bersama
yang dianut oleh para anggota yang membedakan suatu organisasi dari
organisasi-organisasi lainnya. Sistem makna bersama ini adalah sekumpulan
karakteristik kunci yang dijunjung tinggi oleh organisasi.
Adapun pengertian budaya organisasi menurut
beberapa ahli, yaitu :
Menurut Wood, Wallace, Zeffane, Schermerhorn, Hunt,
Osborn (2001:391), budaya organisasi adalah sistem yang dipercayai dan nilai
yang dikembangkan oleh organisasi dimana hal itu menuntun perilaku dari anggota
organisasi itu sendiri.
Menurut Tosi, Rizzo, Carroll seperti yang dikutip
oleh Munandar (2001:263), budaya organisasi adalah cara-cara berpikir,
berperasaan dan bereaksi berdasarkan pola-pola tertentu yang ada dalam organisasi
atau yang ada pada bagian-bagian organisasi.
Menurut Robbins (1996:289), budaya organisasi adalah
suatu persepsi bersama yang dianut oleh anggota-anggota organisasi itu.
Fungsi
Budaya Organisasi.
Budaya organisasi memiliki fungsi yang sangat penting. Fungsi budaya organisasi adalah sebagai tapal batas tingkah laku individu yang ada didalamnya.
Menurut Robbins (1996 : 294), fungsi budaya organisasi sebagai berikut :
Budaya organisasi memiliki fungsi yang sangat penting. Fungsi budaya organisasi adalah sebagai tapal batas tingkah laku individu yang ada didalamnya.
Menurut Robbins (1996 : 294), fungsi budaya organisasi sebagai berikut :
Budaya menciptakan pembedaan yang jelas antara satu
organisasi dan yang lain.
Budaya membawa suatu rasa identitas bagi
anggota-anggota organisasi.
Budaya mempermudah timbulnya komitmen pada sesuatu
yang lebih luas daripada kepentingan diri individual seseorang.
Budaya merupakan perekat sosial yang membantu
mempersatukan organisasi itu dengan memberikan standar-standar yang tepat untuk
dilakukan oleh karyawan.
Budaya sebagai mekanisme pembuat makna dan kendali
yang memandu dan membentuk sikap serta perilaku karyawan.
2. Perubahan dan
Pengembangan Organisasi.
Setiap
organisasi selalu membutuhkan suatu perubahan, perubahan tersebut sebagai
reaksi terhadap perubahan dalam lingkungan organisasi tersebut. Perubahan
organisasi mengacu kepada hal yang berkaitan dengan aktivitas pelaksanaan tugas
di dalam suatu organisasi, sehingga menuju kepada suatu keadaan di dalam
perusahaan tersebut yang dianggap lebih baik oleh pihak manajemen seiring
dengan berjalannya waktu. Restrukturisasi organisasi adalah salah satu dari
bentuk perubahan organisasi.
Penyebab Perubahan:
-
Internal : (Perubahan tujuan, Perubahan struktur organisasi, Perubahan cara
operasional/aktivitas organisasi, dll)
1. Perubahan Internal yang Direncanakan (planned internal change)
Misal: sebuah perusahaan melakukan akuisisi perusahaan lain.
2. Perubahan Internal Tidak Direncanakan (Unplanned internal change)
Misal: perubahan karakteristik demografis (jenis kelamin, pendidikan, usia)
tenaga kerja pada suatu perusahaan.
1. Perubahan Internal yang Direncanakan (planned internal change)
Misal: sebuah perusahaan melakukan akuisisi perusahaan lain.
2. Perubahan Internal Tidak Direncanakan (Unplanned internal change)
Misal: perubahan karakteristik demografis (jenis kelamin, pendidikan, usia)
tenaga kerja pada suatu perusahaan.
- Eksternal : (Perubahan sistem ekonomi, Teknologi baru,dll )
1. Perubahan Eksternal yang Direncanakan (planned external change)
Misal: pengenalan teknologi baru
2. Perubahan Eksternal Tidak Direncanakan (Unplanned external change)
Misal: perubahan kebijakan moneter sbg respon perubahan politik&ekonomi
tiba-tiba
Tingkat Perubahan Organisasi:
1. Perubahan pada sikap individu dalam organisasi, meliputi : Aspek pengetahuan, Sikap/perilaku, Ketidakpuasan (aksi mogok)
2. Perubahan pada tingkat kelompok:
- Kelompok sebagai media/wahana perubahan
- Kelompok sebagai sasaran perubahan
- Kelompok sebagai agen perubahan
3. Perubahan tingkat organisasi:
Adanya promosi kenaikan jabatan seseorang dalam organisasi berimplikasi pada perubahan posisi jabatan di tingkatan bawahnya:
- Perubahan peran dalam aktivitas formal organisasi
- Perubahan pada tingkat organisasi berbeda dan cenderung rumit dibandingkan
dengan perubahan di tingkat individu dan kelompok.
Pengembangan
Organisasi.
Tujuan utama Pengembangan Organisasi adalah untuk perbaikan fungsi organisasi itu sendiri. Peningkatan produktivitas dan keefektifan organisasi membawa implikasi terhadap kapabilitas organisasi dalam membuat keputusan berkualitas dengan melakukan perubahan terhadap struktur, kultur, tugas, teknologi dan sumber daya manusia. Pendekatan utama terhadap hal ini adalah mengembangkan budaya organisasi yang dapat memaksimalkan keterlibatan orang dalam pembuatan keputusan yang efektif dalam organisasi.
Menurut Robbins (1984), usaha PO pada umumnya diarahkan pada dua tujuan akhir, yaitu peningkatan keefektifan organisasi dan peningkatan kepuasan anggotanya. Lebih lanjut, Robbins merinci tujuan PO sebagai berikut:
(1) Meningkatkan tingkat kepercayaan dan dukungan di antara anggota organisasi;
(2) Meningkatkan timbulnya konfrontasi terhadap masalah organisasi baik dalam
kelompok maupun antar-kelompok, sebagai kebalikan dari to sweeping problem
under the rug;
(3) Terciptanya lingkungan dimana otoritas peran yang ditetapkan ditingkatkan dengan
otoritas berdasarkan pengetahuan dan keterampilan;
(4) Meningkatkan keterbukaan komunikasi secara horisontal, vertikal dan diagonal;
(5) Menaikkan tingkat antusiasme dan kepuasan personal dalam organisasi;
(6) Menemukan solusi yang sinergis terhadap masalah; dan
(7) Menaikkan tingkat responsibilitas diri dan kelompok dalam perencanaan dan
implementasi.
Hampir semua pakar berpendapat bahwa pengembangan organisasi bertujuan melakukan perubahan (Thoha, 2002). Dengan demikian, jika diterima pendapat bahwa penyempurnaan dalam organisasi sebagai suatu sarana perubahan yang harus terjadi.
Tujuan utama Pengembangan Organisasi adalah untuk perbaikan fungsi organisasi itu sendiri. Peningkatan produktivitas dan keefektifan organisasi membawa implikasi terhadap kapabilitas organisasi dalam membuat keputusan berkualitas dengan melakukan perubahan terhadap struktur, kultur, tugas, teknologi dan sumber daya manusia. Pendekatan utama terhadap hal ini adalah mengembangkan budaya organisasi yang dapat memaksimalkan keterlibatan orang dalam pembuatan keputusan yang efektif dalam organisasi.
Menurut Robbins (1984), usaha PO pada umumnya diarahkan pada dua tujuan akhir, yaitu peningkatan keefektifan organisasi dan peningkatan kepuasan anggotanya. Lebih lanjut, Robbins merinci tujuan PO sebagai berikut:
(1) Meningkatkan tingkat kepercayaan dan dukungan di antara anggota organisasi;
(2) Meningkatkan timbulnya konfrontasi terhadap masalah organisasi baik dalam
kelompok maupun antar-kelompok, sebagai kebalikan dari to sweeping problem
under the rug;
(3) Terciptanya lingkungan dimana otoritas peran yang ditetapkan ditingkatkan dengan
otoritas berdasarkan pengetahuan dan keterampilan;
(4) Meningkatkan keterbukaan komunikasi secara horisontal, vertikal dan diagonal;
(5) Menaikkan tingkat antusiasme dan kepuasan personal dalam organisasi;
(6) Menemukan solusi yang sinergis terhadap masalah; dan
(7) Menaikkan tingkat responsibilitas diri dan kelompok dalam perencanaan dan
implementasi.
Hampir semua pakar berpendapat bahwa pengembangan organisasi bertujuan melakukan perubahan (Thoha, 2002). Dengan demikian, jika diterima pendapat bahwa penyempurnaan dalam organisasi sebagai suatu sarana perubahan yang harus terjadi.
3. Perencanaan
Strategi Dan Pengembangan Organisasi.
Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam perencanaan strategi dan pengembangan organisasi:
Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam perencanaan strategi dan pengembangan organisasi:
Pengamatan
Eksternal.
Yaitu dengan memperhatikan kesempatan dan ancaman di segala aspek, baik ekonomi, politik, teknologi, budaya dan lainnya yang semua variable itu akan membentuk karakter organisasi. Metode ini sesuai dengan yang dinyatakan oleh Wayne E. Rosing, wakil Direktur pengembangan Sun Microsystems, Inc ”Tidak ada satupun yang memotivasi Sun kecuali ketakutan akan apa yang dilakukan oleh pesaing ”.
Yaitu dengan memperhatikan kesempatan dan ancaman di segala aspek, baik ekonomi, politik, teknologi, budaya dan lainnya yang semua variable itu akan membentuk karakter organisasi. Metode ini sesuai dengan yang dinyatakan oleh Wayne E. Rosing, wakil Direktur pengembangan Sun Microsystems, Inc ”Tidak ada satupun yang memotivasi Sun kecuali ketakutan akan apa yang dilakukan oleh pesaing ”.
Pengamatan
Internal.
Terdiri dari eavaluasi SDM dan struktur organisasi, dengan tujuan mengukur kesiapan SDM (inputs) strategi sekarang (process), kinerja (outputs) dan potensi dalam yang akan membentuk kedinamisan organisasi.
Terdiri dari eavaluasi SDM dan struktur organisasi, dengan tujuan mengukur kesiapan SDM (inputs) strategi sekarang (process), kinerja (outputs) dan potensi dalam yang akan membentuk kedinamisan organisasi.
Perumusan
Organisasi.
Adalah pengembangan planing jangka panjang, dari menejemen yang efektif dari kesempatan dan ancaman yang disinergiskan dengan kondisi internal.
Misi.
Misi Organisasi adalah tujuan atau alasan mengapa organisasi ada dan mempertegas keberadaan organisasi. Konsep misi yang disusun dengan sistemik dan general itu akan menjadikan ciri khas organisasi dengan organisasi yang lain, dan berperan terhadap uniknya nilai produk organisasi yang ditawarkan.
Adalah pengembangan planing jangka panjang, dari menejemen yang efektif dari kesempatan dan ancaman yang disinergiskan dengan kondisi internal.
Misi.
Misi Organisasi adalah tujuan atau alasan mengapa organisasi ada dan mempertegas keberadaan organisasi. Konsep misi yang disusun dengan sistemik dan general itu akan menjadikan ciri khas organisasi dengan organisasi yang lain, dan berperan terhadap uniknya nilai produk organisasi yang ditawarkan.
Tujuan.
Adalah hasil akhir aktivitas perencanaan, dengan merumuskan apa dan kapan yang akan diselasaikan dengan mengukur sasaran.
Strategi.
Strategi merupakan konsep perencanaan komprehensif tentang bagiamana organisasi dapat mencapai misi dan tujuan.
Kebijakan
Adalah pedoman luas yang menghubungkan strategi dan implementasi. Kebijakan ini bersifat general yang nantinya akan diikuti dan disepesifikan dan di interpretasikan dan di implementasikan oleh devisi-devisi melalui strategi dan tujuan devisi masing-masing.
Implementasi strategi
Adalah proses dimana manajemen mewujudkan strategi dan kebijakan dalam tindakan melalui pengembangan program, anggaran dan prosedur.
Program
Adalah pernyataan aktivitas-aktivitas yang diperlukan untuk menyelesaikan pereencanaan sekali pakai.
Anggaran
Adalah program yang dinyatakan dalam satuan uang, setiap program akan dinyatakan secara rinci dalam biaya, yang dapat digunakan oleh SDM untuk mengelola organisasi.
Prosedur
Sering juga disebut dengan standard operating proscedures, yaitu langkah-langkah yang berurutan yang menggambarkan dengan rinci bagaimana suatu tugas atau pekerjaan diselesaikan.
Evaluasi dan Pengendalian
Adalah proses yang melalui aktivitas-aktivitas dan hasil kerja dimonitor dan kinerja nyata dengan kinerja/program yang diinginkan. Hasil yang diharapkan dalam sebuah organisasi adalah bentuk peningkatan efektivitas organisasi : produk, efesiensi, dan kepuasan dalam jangka pendek, adaptasi dan pengembangan dalam jangka menengah, kemampuan berrtahan dalam jangka panjang.
sumber : http://ojankecewow.blogspot.co.id/2015/12/pengertian-fungsi-budaya-organisasi.html
Minggu, 15 November 2015
Pengertian dan Arti Komunikasi
a. Pengertian dan Arti Komunikasi.
Komunikasi adalah suatu proses penyampaian informasi (pesan, ide, gagasan) dari satu pihak kepada pihak lain. Pada umumnya, komunikasi dilakukan secara lisan atau verbal yang dapat dimengerti oleh kedua belah pihak. apabila tidak ada bahasa verbal yang dapat dimengerti oleh keduanya, komunikasi masih dapat dilakukan dengan menggunakan gerak-gerik badan, menunjukkan sikap tertentu, misalnya tersenyum, menggelengkan kepala, mengangkat bahu. Cara seperti ini disebut komunikasi nonverbal.
Dan arti dari komunikasi itu menurut KBBI yaitu pengiriman dan penerimaan pesan atau berita antara dua orang atau lebih sehingga pesan yang dimaksud dapat dipahami.
b. Jenis dan Proses Komunikasi.
Jenis komunikasi terdiri dari:
- Komunikasi verbal dengan kata-kata
- Komunikasi non verbal disebut dengan bahasa tubuh
Proses Komunikasi
Proses komunikasi adalah
bagaimana Pembicara menyampaikan pesan kepada pendengar, sehingga dapat
menciptakan suatu persamaan makna antara pendengan dengan pembicara.
1. Komunikator adalah pihak yang bertindak sebagai pengirim pesan dalam sebuah proses komunikasi.
2. Pesan adalah setiap pemberitahuan, kata, atau komunikasi baik lisan maupun tertulis, yang dikirimkan dari satu orang ke orang lain.
3. Penerima adalah pihak yang memperoleh pesan atau stimulus yang dikirmkan oleh sumber.
4. FeedBack adalah isyarat atau tanggapan yang berisi kesan dari penerima pesan dalam bentuk verbal maupun non-verbal.
c. Komunikasi Yang Efektif.
Berkomunikasi
efektif berarti bahwa komunikator dan komunikan sama-sama memiliki
pengertian yang sama tentang suatu pesan. Oleh karena itu, dalam bahasa
asing orang menyebutnya “the communication is in tune” ,yaitu kedua
belah pihak yang berkomunikasi sama-sama mengerti apa pesan yang
disampaikan. Menurut Jalaluddin dalam bukunya Psikologi Komunikasi
menyebutkan, komunikasi yang efektif ditandai dengan adanya pengertian,
dapat menimbulkan kesenangan, mempengaruhi sikap, meningkatkan hubungan
sosial yang baik, dan pada akhirnya menimbulkan suatu tidakan
Berkomunikasi efektif berarti bahwa komunikator dan komunikan sama-sama memiliki pengertian yang sama tentang suatu pesan. Oleh karena itu, dalam bahasa asing orang menyebutnya “the communication is in tune” ,yaitu kedua belah pihak yang berkomunikasi sama-sama mengerti apa pesan yang disampaikan. Menurut Jalaluddin dalam bukunya Psikologi Komunikasi menyebutkan, komunikasi yang efektif ditandai dengan adanya pengertian, dapat menimbulkan kesenangan, mempengaruhi sikap, meningkatkan hubungan sosial yang baik, dan pada akhirnya menimbulkan suatu tidakan
Teori dan Arti Kepemimpinan.
a. Teori dan Arti Kepemimpinan.
Teori kepemimpinan Great Man(Pemimpin Besar)
Teori
Great Man menyatakan bahwa ada dua asumsi dasar, bahwa pemimpin
dilahirkan dan tidak dibuat, dan asumsi kedua adalah bahwa pemimpin
besar akan muncul ketika dibutuhkan.
- Teori kepemimpinan sifat :
Teori
sifat tersebut mengasumsikan bahwa para pemimpin telah mewarisi
sifat-sifat di dalamnya yang membuat orang cocok untuk menjadi pemimpin.
- Teori kepemimpinan perilaku :
Terori
Ini mengatakan bahwa sifat-sifat dan kualitas kepemimpinan tidak
diwariskan, tapi dapat dipelajari dan dikuasai oleh setiap orang.
- Teori kepemimpinan situasional :
Sifat kepemimpinan yang pemimpin muncul sebagai akibat dari situasi yang berbeda dan saat di butuhkan unuk melakukan perubahan.
- Teori kepemimpinan transaksional :
Pemimpin
transaksional tahu apa yang dia inginkan dari pekerjaan dan memastikan
bahwa para pengikutnya melakukan dengan baik untuk memberikan hasil yang
diharapkan.
- Teori kepemimpinan transformasional :
Dalam
teori kepemimpinan transformasional, orang-orang atau pengikut
terinspirasi oleh pemimpinnya, dan pemimpin harus memiliki gairah dengan
kepemimpinannya. Singkatnya,pengikut akan terdorong karena terinspirasi
dari pemimpin dan menjadi pengikut yang berpotensi.
Arti Penting kepemimpinan :
Kepemimpinan
adalah Kemampuan memperoleh konsensus dan keika tanpa dasasaran
bersama, melampaui syarat-syarat organisasi, yang dicapai dengan
pengalaman sumbangan dan kepuasan di pihak kelompok kerja. Tipologi
Kepemimpinan.
b. Tipologi Kepemimpinan
Dalam
praktiknya, dari ketiga gaya kepemimpinan tersebut berkembang beberapa
tipe kepemimpinan; di antaranya adalah sebagian berikut (Siagian,1997).
1. Tipe Otokratis.
Seorang
pemimpin yang otokratis ialah pemimpin yang memiliki kriteria atau ciri
sebagai berikut: Menganggap organisasi sebagai pemilik pribadi,
Mengidentikkan tujuan pribadi dengan tujuan organisasi, Menganggap
bawahan sebagai alat semata-mata, Tidak mau menerima kritik, saran dan
pendapat, Terlalu tergantung kepada kekuasaan formalnya, Dalam tindakan
pengge-rakkannya sering mempergunakan pendekatan yang mengandung unsur
paksaan dan bersifat menghukum.
2. Tipe Militeristis
Seorang
pemimpin yang bertipe militeristis ialah seorang pemimpin yang memiliki
sifat-sifat berikut : Dalam menggerakan bawahan sistem perintah yang
lebih sering dipergunakan, Dalam menggerakkan bawahan senang bergantung
kepada pangkat dan jabatannya, Senang pada formalitas yang
berlebih-lebihan, Menuntut disiplin yang tinggi dan kaku dari bawahan,
Sukar menerima kritikan dari bawahannya, Menggemari upacara-upacara
untuk berbagai keadaan.
3. Tipe Paternalistis.
Seorang
pemimpin yang tergolong sebagai pemimpin yang paternalistis ialah
seorang yang memiliki ciri sebagai berikut : menganggap bawahannya
sebagai manusia yang tidak dewasa, bersikap terlalu melindungi (overly
protective), jarang memberikan kesempatan kepada bawahannya untuk
mengambil keputusan, jarang memberikan kesempatan kepada bawahannya
untuk mengambil inisiatif, jarang memberikan kesempatan kepada
bawahannya untuk mengembangkan daya kreasi dan fantasinya, dan sering
bersikap maha tahu.
4. Tipe Karismatik.
Hingga
sekarang ini para ahli belum berhasil menemukan sebab-sebab mengapa
seseorang pemimpin memiliki karisma. Umumnya diketahui bahwa pemimpin
yang demikian mempunyai daya tarik yang amat besar dan karenanya pada
umumnya mempunyai pengikut yang jumlahnya sangat besar, meskipun para
pengikut itu sering pula tidak dapat menjelaskan mengapa mereka menjadi
pengikut pemimpin itu. Karena kurangnya pengetahuan tentang sebab
musabab seseorang menjadi pemimpin yang karismatik, maka sering hanya
dikatakan bahwa pemimpin yang demikian diberkahi dengan kekuatan gaib
(supra natural powers).
5. Tipe Demokratis.
Pengetahuan
tentang kepemimpinan telah membuktikan bahwa tipe pemimpin yang
demokratislah yang paling tepat untuk organisasi modern. Hal ini terjadi
karena tipe kepemimpinan ini memiliki karakteristik sebagai berikut :
dalam proses penggerakan bawahan selalu bertitik tolak dari pendapat
bahwa manusia itu adalah makhluk yang termulia di dunia, selalu berusaha
mensinkronisasikan kepentingan dan tujuan organisasi dengan kepentingan
dan tujuan pribadi dari pada bawahannya,
senang menerima saran, pendapat, dan bahkan kritik dari bawahannya
c. Faktor Yang Mempengaruhi Keberhasilan Pemimpin.
1.
Moril : moril adalah keadaan jiwa dan emosi seseorang yang mempengaruhi
kemauan untuk melaksanakan tugas dan akan mempengaruhi hasil
pelaksanaan tugas perorangan maupun organisasi. Faktor-faktor yang
mempengaruhi moril adalah : 1). kepemimpinan atasan. 2). kepercayaan dan
keyakinan akan kebenaran. 3). penghargaan atas penyelesaian tugas. 4).
solidaritas dan kebanggaan organisasi. 5). pendidikan dan latihan. 6).
kesejahteraan dan rekreasi. 7). kesempatan untuk mengembangkan bakat.
8). struktur organisasi. 9). pengaruh dari luar.
2.
Disiplin : disiplin adalah ketaatan tanpa ragu-ragu dan tulus ikhlas
terhadap perintah atau petunjuk atasan serta peraturan yang berlaku.
Disiplin yang terbaik adalah disiplin yang didasarkan oleh disiplin
pribadi. Cara-cara untuk memelihara dan meningkat disiplin : 1).
Menetapkan peraturan kedinasan secara jelas dan tegas. 2). Menentukan
tingkat dan ukuran kemampuan. 3). Bersikap loyal. 4). Menciptakan
kegiatan atas dasar persaingan yang sehat. 5). Menyelenggarakan
komunikasi secara terbuka. 6). Menghilangkan hal-hal yang dapat membuat
bawahan tersinggung, kecewa dan frustasi. 7). Menganalisa peraturan dan
kebijaksanaan yang berlaku agar tetap mutakhir dan menghapus yang sudah
tidak sesuai lagi. 8). Melaksanakan reward and punishment.
3.
Jiwa korsa : jiwa korsa adalah loyalitas, kebanggan dan antusiasme yang
tertanam pada anggota termasuk pimpinannya terhadap organisasinya.
Dalam suatu organisasi yang mempunyai jiwa korsa yang tinggi, rasa
ketidakpuasan bawahan dapat dipadamkan oleh semangat organisasi.
4.
Kecakapan : kecakapan adalah kepandaian melaksanakan tugas dengan hasil
yang baik dalam waktu yang singkat dengan menggunakan tenaga dan sarana
yang seefisien mungkin serta berlangsung dengan tertib. Pengetahuan dan
kecakapan yang dimiliki pimpinan dapat diperoleh dari pendidikan,
pelatihan, inisiatif dan pengembangan pribadi serta pengalaman tugas.
Setiap
pemimpin perlu menentukan corak dan gaya kepemimpinannya agar nampak
seni kepemimpinannya dalam memimpin. Corak dan gaya kepemimpinan dapat
terlihat dari sikap pemimpin, yaitu sebagai : Pemimpin, Guru, Pembina,
Bapak dan Teman Seperjuangan.
Sumber : http://ojankecewow.blogspot.co.id/2015/11/pengertian-dan-arti-komunikasi
.
Teori dan Arti Kepemimpinan.
a. Teori dan Arti Kepemimpinan.
a. Teori dan Arti Kepemimpinan.
Teori kepemimpinan Great Man(Pemimpin Besar)
Teori kepemimpinan Great Man(Pemimpin Besar)
Teori
Great Man menyatakan bahwa ada dua asumsi dasar, bahwa pemimpin
dilahirkan dan tidak dibuat, dan asumsi kedua adalah bahwa pemimpin
besar akan muncul ketika dibutuhkan.
Teori Great Man menyatakan bahwa ada dua asumsi dasar, bahwa pemimpin dilahirkan dan tidak dibuat, dan asumsi kedua adalah bahwa pemimpin besar akan muncul ketika dibutuhkan.
- Teori kepemimpinan sifat :
- Teori kepemimpinan sifat :
Teori
sifat tersebut mengasumsikan bahwa para pemimpin telah mewarisi
sifat-sifat di dalamnya yang membuat orang cocok untuk menjadi pemimpin.
Teori sifat tersebut mengasumsikan bahwa para pemimpin telah mewarisi sifat-sifat di dalamnya yang membuat orang cocok untuk menjadi pemimpin.
- Teori kepemimpinan perilaku :
- Teori kepemimpinan perilaku :
Terori
Ini mengatakan bahwa sifat-sifat dan kualitas kepemimpinan tidak
diwariskan, tapi dapat dipelajari dan dikuasai oleh setiap orang.
Terori Ini mengatakan bahwa sifat-sifat dan kualitas kepemimpinan tidak diwariskan, tapi dapat dipelajari dan dikuasai oleh setiap orang.
- Teori kepemimpinan situasional :
- Teori kepemimpinan situasional :
Sifat kepemimpinan yang pemimpin muncul sebagai akibat dari situasi yang berbeda dan saat di butuhkan unuk melakukan perubahan.
Sifat kepemimpinan yang pemimpin muncul sebagai akibat dari situasi yang berbeda dan saat di butuhkan unuk melakukan perubahan.
- Teori kepemimpinan transaksional :
- Teori kepemimpinan transaksional :
Pemimpin
transaksional tahu apa yang dia inginkan dari pekerjaan dan memastikan
bahwa para pengikutnya melakukan dengan baik untuk memberikan hasil yang
diharapkan.
Pemimpin transaksional tahu apa yang dia inginkan dari pekerjaan dan memastikan bahwa para pengikutnya melakukan dengan baik untuk memberikan hasil yang diharapkan.
- Teori kepemimpinan transformasional :
- Teori kepemimpinan transformasional :
Dalam
teori kepemimpinan transformasional, orang-orang atau pengikut
terinspirasi oleh pemimpinnya, dan pemimpin harus memiliki gairah dengan
kepemimpinannya. Singkatnya,pengikut akan terdorong karena terinspirasi
dari pemimpin dan menjadi pengikut yang berpotensi.
Dalam teori kepemimpinan transformasional, orang-orang atau pengikut terinspirasi oleh pemimpinnya, dan pemimpin harus memiliki gairah dengan kepemimpinannya. Singkatnya,pengikut akan terdorong karena terinspirasi dari pemimpin dan menjadi pengikut yang berpotensi.
Arti Penting kepemimpinan :
Arti Penting kepemimpinan :
Kepemimpinan
adalah Kemampuan memperoleh konsensus dan keika tanpa dasasaran
bersama, melampaui syarat-syarat organisasi, yang dicapai dengan
pengalaman sumbangan dan kepuasan di pihak kelompok kerja. Tipologi
Kepemimpinan.
Kepemimpinan adalah Kemampuan memperoleh konsensus dan keika tanpa dasasaran bersama, melampaui syarat-syarat organisasi, yang dicapai dengan pengalaman sumbangan dan kepuasan di pihak kelompok kerja. Tipologi Kepemimpinan.
b. Tipologi Kepemimpinan
Dalam
praktiknya, dari ketiga gaya kepemimpinan tersebut berkembang beberapa
tipe kepemimpinan; di antaranya adalah sebagian berikut (Siagian,1997).
1. Tipe Otokratis.
Seorang
pemimpin yang otokratis ialah pemimpin yang memiliki kriteria atau ciri
sebagai berikut: Menganggap organisasi sebagai pemilik pribadi,
Mengidentikkan tujuan pribadi dengan tujuan organisasi, Menganggap
bawahan sebagai alat semata-mata, Tidak mau menerima kritik, saran dan
pendapat, Terlalu tergantung kepada kekuasaan formalnya, Dalam tindakan
pengge-rakkannya sering mempergunakan pendekatan yang mengandung unsur
paksaan dan bersifat menghukum.
2. Tipe Militeristis
Seorang
pemimpin yang bertipe militeristis ialah seorang pemimpin yang memiliki
sifat-sifat berikut : Dalam menggerakan bawahan sistem perintah yang
lebih sering dipergunakan, Dalam menggerakkan bawahan senang bergantung
kepada pangkat dan jabatannya, Senang pada formalitas yang
berlebih-lebihan, Menuntut disiplin yang tinggi dan kaku dari bawahan,
Sukar menerima kritikan dari bawahannya, Menggemari upacara-upacara
untuk berbagai keadaan.
3. Tipe Paternalistis.
Seorang
pemimpin yang tergolong sebagai pemimpin yang paternalistis ialah
seorang yang memiliki ciri sebagai berikut : menganggap bawahannya
sebagai manusia yang tidak dewasa, bersikap terlalu melindungi (overly
protective), jarang memberikan kesempatan kepada bawahannya untuk
mengambil keputusan, jarang memberikan kesempatan kepada bawahannya
untuk mengambil inisiatif, jarang memberikan kesempatan kepada
bawahannya untuk mengembangkan daya kreasi dan fantasinya, dan sering
bersikap maha tahu.
4. Tipe Karismatik.
Hingga
sekarang ini para ahli belum berhasil menemukan sebab-sebab mengapa
seseorang pemimpin memiliki karisma. Umumnya diketahui bahwa pemimpin
yang demikian mempunyai daya tarik yang amat besar dan karenanya pada
umumnya mempunyai pengikut yang jumlahnya sangat besar, meskipun para
pengikut itu sering pula tidak dapat menjelaskan mengapa mereka menjadi
pengikut pemimpin itu. Karena kurangnya pengetahuan tentang sebab
musabab seseorang menjadi pemimpin yang karismatik, maka sering hanya
dikatakan bahwa pemimpin yang demikian diberkahi dengan kekuatan gaib
(supra natural powers).
5. Tipe Demokratis.
Pengetahuan
tentang kepemimpinan telah membuktikan bahwa tipe pemimpin yang
demokratislah yang paling tepat untuk organisasi modern. Hal ini terjadi
karena tipe kepemimpinan ini memiliki karakteristik sebagai berikut :
dalam proses penggerakan bawahan selalu bertitik tolak dari pendapat
bahwa manusia itu adalah makhluk yang termulia di dunia, selalu berusaha
mensinkronisasikan kepentingan dan tujuan organisasi dengan kepentingan
dan tujuan pribadi dari pada bawahannya,
senang menerima saran, pendapat, dan bahkan kritik dari bawahannya
c. Faktor Yang Mempengaruhi Keberhasilan Pemimpin.
1.
Moril : moril adalah keadaan jiwa dan emosi seseorang yang mempengaruhi
kemauan untuk melaksanakan tugas dan akan mempengaruhi hasil
pelaksanaan tugas perorangan maupun organisasi. Faktor-faktor yang
mempengaruhi moril adalah : 1). kepemimpinan atasan. 2). kepercayaan dan
keyakinan akan kebenaran. 3). penghargaan atas penyelesaian tugas. 4).
solidaritas dan kebanggaan organisasi. 5). pendidikan dan latihan. 6).
kesejahteraan dan rekreasi. 7). kesempatan untuk mengembangkan bakat.
8). struktur organisasi. 9). pengaruh dari luar.
2.
Disiplin : disiplin adalah ketaatan tanpa ragu-ragu dan tulus ikhlas
terhadap perintah atau petunjuk atasan serta peraturan yang berlaku.
Disiplin yang terbaik adalah disiplin yang didasarkan oleh disiplin
pribadi. Cara-cara untuk memelihara dan meningkat disiplin : 1).
Menetapkan peraturan kedinasan secara jelas dan tegas. 2). Menentukan
tingkat dan ukuran kemampuan. 3). Bersikap loyal. 4). Menciptakan
kegiatan atas dasar persaingan yang sehat. 5). Menyelenggarakan
komunikasi secara terbuka. 6). Menghilangkan hal-hal yang dapat membuat
bawahan tersinggung, kecewa dan frustasi. 7). Menganalisa peraturan dan
kebijaksanaan yang berlaku agar tetap mutakhir dan menghapus yang sudah
tidak sesuai lagi. 8). Melaksanakan reward and punishment.
3.
Jiwa korsa : jiwa korsa adalah loyalitas, kebanggan dan antusiasme yang
tertanam pada anggota termasuk pimpinannya terhadap organisasinya.
Dalam suatu organisasi yang mempunyai jiwa korsa yang tinggi, rasa
ketidakpuasan bawahan dapat dipadamkan oleh semangat organisasi.
4.
Kecakapan : kecakapan adalah kepandaian melaksanakan tugas dengan hasil
yang baik dalam waktu yang singkat dengan menggunakan tenaga dan sarana
yang seefisien mungkin serta berlangsung dengan tertib. Pengetahuan dan
kecakapan yang dimiliki pimpinan dapat diperoleh dari pendidikan,
pelatihan, inisiatif dan pengembangan pribadi serta pengalaman tugas.
Setiap
pemimpin perlu menentukan corak dan gaya kepemimpinannya agar nampak
seni kepemimpinannya dalam memimpin. Corak dan gaya kepemimpinan dapat
terlihat dari sikap pemimpin, yaitu sebagai : Pemimpin, Guru, Pembina,
Bapak dan Teman Seperjuangan.
Sumber : http://ojankecewow.blogspot.co.id/2015/11/pengertian-dan-arti-komunikasi
.
b. Tipologi Kepemimpinan
b. Tipologi Kepemimpinan
Dalam
praktiknya, dari ketiga gaya kepemimpinan tersebut berkembang beberapa
tipe kepemimpinan; di antaranya adalah sebagian berikut (Siagian,1997).
1. Tipe Otokratis.
Seorang
pemimpin yang otokratis ialah pemimpin yang memiliki kriteria atau ciri
sebagai berikut: Menganggap organisasi sebagai pemilik pribadi,
Mengidentikkan tujuan pribadi dengan tujuan organisasi, Menganggap
bawahan sebagai alat semata-mata, Tidak mau menerima kritik, saran dan
pendapat, Terlalu tergantung kepada kekuasaan formalnya, Dalam tindakan
pengge-rakkannya sering mempergunakan pendekatan yang mengandung unsur
paksaan dan bersifat menghukum.
Dalam praktiknya, dari ketiga gaya kepemimpinan tersebut berkembang beberapa tipe kepemimpinan; di antaranya adalah sebagian berikut (Siagian,1997).
1. Tipe Otokratis.
Seorang pemimpin yang otokratis ialah pemimpin yang memiliki kriteria atau ciri sebagai berikut: Menganggap organisasi sebagai pemilik pribadi, Mengidentikkan tujuan pribadi dengan tujuan organisasi, Menganggap bawahan sebagai alat semata-mata, Tidak mau menerima kritik, saran dan pendapat, Terlalu tergantung kepada kekuasaan formalnya, Dalam tindakan pengge-rakkannya sering mempergunakan pendekatan yang mengandung unsur paksaan dan bersifat menghukum.
2. Tipe Militeristis
Seorang
pemimpin yang bertipe militeristis ialah seorang pemimpin yang memiliki
sifat-sifat berikut : Dalam menggerakan bawahan sistem perintah yang
lebih sering dipergunakan, Dalam menggerakkan bawahan senang bergantung
kepada pangkat dan jabatannya, Senang pada formalitas yang
berlebih-lebihan, Menuntut disiplin yang tinggi dan kaku dari bawahan,
Sukar menerima kritikan dari bawahannya, Menggemari upacara-upacara
untuk berbagai keadaan.
3. Tipe Paternalistis.
Seorang
pemimpin yang tergolong sebagai pemimpin yang paternalistis ialah
seorang yang memiliki ciri sebagai berikut : menganggap bawahannya
sebagai manusia yang tidak dewasa, bersikap terlalu melindungi (overly
protective), jarang memberikan kesempatan kepada bawahannya untuk
mengambil keputusan, jarang memberikan kesempatan kepada bawahannya
untuk mengambil inisiatif, jarang memberikan kesempatan kepada
bawahannya untuk mengembangkan daya kreasi dan fantasinya, dan sering
bersikap maha tahu.
2. Tipe Militeristis
Seorang pemimpin yang bertipe militeristis ialah seorang pemimpin yang memiliki sifat-sifat berikut : Dalam menggerakan bawahan sistem perintah yang lebih sering dipergunakan, Dalam menggerakkan bawahan senang bergantung kepada pangkat dan jabatannya, Senang pada formalitas yang berlebih-lebihan, Menuntut disiplin yang tinggi dan kaku dari bawahan, Sukar menerima kritikan dari bawahannya, Menggemari upacara-upacara untuk berbagai keadaan.
3. Tipe Paternalistis.
Seorang pemimpin yang tergolong sebagai pemimpin yang paternalistis ialah seorang yang memiliki ciri sebagai berikut : menganggap bawahannya sebagai manusia yang tidak dewasa, bersikap terlalu melindungi (overly protective), jarang memberikan kesempatan kepada bawahannya untuk mengambil keputusan, jarang memberikan kesempatan kepada bawahannya untuk mengambil inisiatif, jarang memberikan kesempatan kepada bawahannya untuk mengembangkan daya kreasi dan fantasinya, dan sering bersikap maha tahu.
4. Tipe Karismatik.
4. Tipe Karismatik.
Hingga
sekarang ini para ahli belum berhasil menemukan sebab-sebab mengapa
seseorang pemimpin memiliki karisma. Umumnya diketahui bahwa pemimpin
yang demikian mempunyai daya tarik yang amat besar dan karenanya pada
umumnya mempunyai pengikut yang jumlahnya sangat besar, meskipun para
pengikut itu sering pula tidak dapat menjelaskan mengapa mereka menjadi
pengikut pemimpin itu. Karena kurangnya pengetahuan tentang sebab
musabab seseorang menjadi pemimpin yang karismatik, maka sering hanya
dikatakan bahwa pemimpin yang demikian diberkahi dengan kekuatan gaib
(supra natural powers).
Hingga sekarang ini para ahli belum berhasil menemukan sebab-sebab mengapa seseorang pemimpin memiliki karisma. Umumnya diketahui bahwa pemimpin yang demikian mempunyai daya tarik yang amat besar dan karenanya pada umumnya mempunyai pengikut yang jumlahnya sangat besar, meskipun para pengikut itu sering pula tidak dapat menjelaskan mengapa mereka menjadi pengikut pemimpin itu. Karena kurangnya pengetahuan tentang sebab musabab seseorang menjadi pemimpin yang karismatik, maka sering hanya dikatakan bahwa pemimpin yang demikian diberkahi dengan kekuatan gaib (supra natural powers).
5. Tipe Demokratis.
5. Tipe Demokratis.
Pengetahuan
tentang kepemimpinan telah membuktikan bahwa tipe pemimpin yang
demokratislah yang paling tepat untuk organisasi modern. Hal ini terjadi
karena tipe kepemimpinan ini memiliki karakteristik sebagai berikut :
dalam proses penggerakan bawahan selalu bertitik tolak dari pendapat
bahwa manusia itu adalah makhluk yang termulia di dunia, selalu berusaha
mensinkronisasikan kepentingan dan tujuan organisasi dengan kepentingan
dan tujuan pribadi dari pada bawahannya,
senang menerima saran, pendapat, dan bahkan kritik dari bawahannya
Pengetahuan tentang kepemimpinan telah membuktikan bahwa tipe pemimpin yang demokratislah yang paling tepat untuk organisasi modern. Hal ini terjadi karena tipe kepemimpinan ini memiliki karakteristik sebagai berikut : dalam proses penggerakan bawahan selalu bertitik tolak dari pendapat bahwa manusia itu adalah makhluk yang termulia di dunia, selalu berusaha mensinkronisasikan kepentingan dan tujuan organisasi dengan kepentingan dan tujuan pribadi dari pada bawahannya, senang menerima saran, pendapat, dan bahkan kritik dari bawahannya
c. Faktor Yang Mempengaruhi Keberhasilan Pemimpin.
1.
Moril : moril adalah keadaan jiwa dan emosi seseorang yang mempengaruhi
kemauan untuk melaksanakan tugas dan akan mempengaruhi hasil
pelaksanaan tugas perorangan maupun organisasi. Faktor-faktor yang
mempengaruhi moril adalah : 1). kepemimpinan atasan. 2). kepercayaan dan
keyakinan akan kebenaran. 3). penghargaan atas penyelesaian tugas. 4).
solidaritas dan kebanggaan organisasi. 5). pendidikan dan latihan. 6).
kesejahteraan dan rekreasi. 7). kesempatan untuk mengembangkan bakat.
8). struktur organisasi. 9). pengaruh dari luar.
2.
Disiplin : disiplin adalah ketaatan tanpa ragu-ragu dan tulus ikhlas
terhadap perintah atau petunjuk atasan serta peraturan yang berlaku.
Disiplin yang terbaik adalah disiplin yang didasarkan oleh disiplin
pribadi. Cara-cara untuk memelihara dan meningkat disiplin : 1).
Menetapkan peraturan kedinasan secara jelas dan tegas. 2). Menentukan
tingkat dan ukuran kemampuan. 3). Bersikap loyal. 4). Menciptakan
kegiatan atas dasar persaingan yang sehat. 5). Menyelenggarakan
komunikasi secara terbuka. 6). Menghilangkan hal-hal yang dapat membuat
bawahan tersinggung, kecewa dan frustasi. 7). Menganalisa peraturan dan
kebijaksanaan yang berlaku agar tetap mutakhir dan menghapus yang sudah
tidak sesuai lagi. 8). Melaksanakan reward and punishment.
3.
Jiwa korsa : jiwa korsa adalah loyalitas, kebanggan dan antusiasme yang
tertanam pada anggota termasuk pimpinannya terhadap organisasinya.
Dalam suatu organisasi yang mempunyai jiwa korsa yang tinggi, rasa
ketidakpuasan bawahan dapat dipadamkan oleh semangat organisasi.
4.
Kecakapan : kecakapan adalah kepandaian melaksanakan tugas dengan hasil
yang baik dalam waktu yang singkat dengan menggunakan tenaga dan sarana
yang seefisien mungkin serta berlangsung dengan tertib. Pengetahuan dan
kecakapan yang dimiliki pimpinan dapat diperoleh dari pendidikan,
pelatihan, inisiatif dan pengembangan pribadi serta pengalaman tugas.
Setiap
pemimpin perlu menentukan corak dan gaya kepemimpinannya agar nampak
seni kepemimpinannya dalam memimpin. Corak dan gaya kepemimpinan dapat
terlihat dari sikap pemimpin, yaitu sebagai : Pemimpin, Guru, Pembina,
Bapak dan Teman Seperjuangan.
Sumber : http://ojankecewow.blogspot.co.id/2015/11/pengertian-dan-arti-komunikasi
c. Faktor Yang Mempengaruhi Keberhasilan Pemimpin.
1. Moril : moril adalah keadaan jiwa dan emosi seseorang yang mempengaruhi kemauan untuk melaksanakan tugas dan akan mempengaruhi hasil pelaksanaan tugas perorangan maupun organisasi. Faktor-faktor yang mempengaruhi moril adalah : 1). kepemimpinan atasan. 2). kepercayaan dan keyakinan akan kebenaran. 3). penghargaan atas penyelesaian tugas. 4). solidaritas dan kebanggaan organisasi. 5). pendidikan dan latihan. 6). kesejahteraan dan rekreasi. 7). kesempatan untuk mengembangkan bakat. 8). struktur organisasi. 9). pengaruh dari luar.
2. Disiplin : disiplin adalah ketaatan tanpa ragu-ragu dan tulus ikhlas terhadap perintah atau petunjuk atasan serta peraturan yang berlaku. Disiplin yang terbaik adalah disiplin yang didasarkan oleh disiplin pribadi. Cara-cara untuk memelihara dan meningkat disiplin : 1). Menetapkan peraturan kedinasan secara jelas dan tegas. 2). Menentukan tingkat dan ukuran kemampuan. 3). Bersikap loyal. 4). Menciptakan kegiatan atas dasar persaingan yang sehat. 5). Menyelenggarakan komunikasi secara terbuka. 6). Menghilangkan hal-hal yang dapat membuat bawahan tersinggung, kecewa dan frustasi. 7). Menganalisa peraturan dan kebijaksanaan yang berlaku agar tetap mutakhir dan menghapus yang sudah tidak sesuai lagi. 8). Melaksanakan reward and punishment.
3. Jiwa korsa : jiwa korsa adalah loyalitas, kebanggan dan antusiasme yang tertanam pada anggota termasuk pimpinannya terhadap organisasinya. Dalam suatu organisasi yang mempunyai jiwa korsa yang tinggi, rasa ketidakpuasan bawahan dapat dipadamkan oleh semangat organisasi.
4. Kecakapan : kecakapan adalah kepandaian melaksanakan tugas dengan hasil yang baik dalam waktu yang singkat dengan menggunakan tenaga dan sarana yang seefisien mungkin serta berlangsung dengan tertib. Pengetahuan dan kecakapan yang dimiliki pimpinan dapat diperoleh dari pendidikan, pelatihan, inisiatif dan pengembangan pribadi serta pengalaman tugas.
Setiap
pemimpin perlu menentukan corak dan gaya kepemimpinannya agar nampak
seni kepemimpinannya dalam memimpin. Corak dan gaya kepemimpinan dapat
terlihat dari sikap pemimpin, yaitu sebagai : Pemimpin, Guru, Pembina,
Bapak dan Teman Seperjuangan.
Sumber : http://ojankecewow.blogspot.co.id/2015/11/pengertian-dan-arti-komunikasi
Jumat, 09 Oktober 2015
Tugas Softskill TOU
2KA31
1. Pengertian organisasi dari beberapa tokoh
·
Stoner mengatakan bahwa organisasi adalah suatu pola
hubungan-hubungan yang melalui mana orang-orang di bawah pengarahan atasan
mengejar tujuan bersama.
·
James D. Mooney mengemukakan bahwa organisasi adalah
bentuk setiap perserikatan manusia untuk mencapai tujuan bersama.
·
Chester I. Bernard berpendapat bahwa organisasi adalah
merupakan suatu sistem aktivitas kerja sama yang dilakukan oleh dua orang atau
lebih.
·
Stephen P. Robbins menyatakan bahwa Organisasi adalah
kesatuan (entity) sosial yang dikoordinasikan secara sadar, dengan
sebuah batasan yang relatif dapat diidentifikasi, yang bekerja atas dasar yang
relatif terus menerus untuk mencapai suatu tujuan bersama atau sekelompok
tujuan.
·
Prof Dr. Sondang P. Siagian, mendefinisikanorganisasi
ialah setiap bentuk persekutuan antara dua orang atau lebih yang
bekerja bersama serta secara formal terikat dalam rangka pencapaian suatu
tujuan yang telah ditentukan dalam ikatan yang mana terdapat seseorang /
beberapa orang yang disebut atasan dan seorang / sekelompok orang yang disebut
dengan bawahan.
·
Drs. Malayu S.P Hasibuan mengatakanorganisasi ialah
suatu sistem perserikatan formal, berstruktur dan terkoordinasi dari sekelompok
yang bekerja sama dalam mencapai tujuan tertentu. Organisasi hanya merupakan
alat dan wadah saja.
·
Prof. Dr. Mr Pradjudi Armosudiro mengatakanorganisasi
adalah struktur pembagian kerja dan struktur tata hubungan kerja antara
sekelompok orang pemegang posisi yang bekerjasama secara tertentu untuk
bersama-sama mencapai tujuan tertentu.
·
James D Mooney berpendapat bahwa Organization is the
form of every human, association for the assignment of common purpose atau
organisasi adalah setiap bentuk kerjasama untuk pencapaian suatu tujuan
bersama.
·
Chester L Bernard (1938) mengatakan bahwa Organisasi
adalah system kerjasama antara dua orang atau lebih ( Define organization as a
system of cooperative of two or more persons) yang sama-sama memiliki visi dan
misi yang sama.
·
Paul Preston dan Thomas Zimmerer mengatakan bahwa Organisasi
adalah sekumpulan orang-orang yang disusun dalam kelompok-kelompok, yang
bekerjasama untuk mencapai tujuan bersama. (Organization is a collection
people, arranged into groups, working together to achieve some common
objectives).
Sebuah organisasi dapat terbentuk karena dipengaruhi oleh
beberapa aspek seperti penyatuan visi dan misi serta tujuan yang sama dengan
perwujudan eksistensi sekelompok orang tersebut terhadap masyarakat. Organisasi
yang dianggap baik adalah organisasi yang dapat diakui keberadaannya oleh
masyarakat disekitarnya, karena memberikan kontribusi seperti; pengambilan
sumber daya manusia dalam masyarakat sebagai anggota-anggotanya sehingga
menekan angka pengangguran.
Orang-orang yang ada di dalam suatu organisasi mempunyai
suatu keterkaitan yang terus menerus. Rasa keterkaitan ini, bukan berarti
keanggotaan seumur hidup. Akan tetapi sebaliknya, organisasi menghadapi
perubahan yang konstan di dalam keanggotaan mereka, meskipun pada saat mereka
menjadi anggota, orang-orang dalam organisasi berpartisipasi secara relatif
teratur.
Sumber :
http://slurppsss.wordpress.com/2010/10/03/definisi-para-ahli-tentang-organisasi-beserta-bentuknya/
2.
Ciri,
Unsur Dan Jenis Perencanaan
Ciri- ciri Sebuah Perencanaan
Dalam sebuah organisasi perencanaan mempunyai
implikasi masa depan dan mengandung arti dibutuhkanya keahlian merancang
rencana untuk tercapainya tujuan. Pada dasarnya rencana itu mempunyai 3 ciri-
ciri yaitu:
1) Perencanaan
harus mengenai masa depan
2) Perencanaan
harus menyangkut suatu tindakan yang akan dilakukan
adanya jalan tindakan dimasa depan akan diambil oleh
perencanaan atau oleh orang lain yang di tunjuk dalam sebuah organisasi. Masa
depan, tindakan, dan pelaksanaan pribadi atau organisasi adalah unsur- unsur
yang perlu dalam setiap rencana.
Menurut Sigian, perencanaan yang baik dalam manajemen
adalah perencanaan yang berciri sebagai
berikut:
1) Rencana harus
memepermudah tercapainya tujuan yang telah di tentukan sebelumnya. Artinya,
penyusunan suatu rencana tidak boleh dipandang sebagai tujuan, tetapi sebagai
cara yang sifatnya
sistematik
intuk tercapainya suatu tujuan awal.
2) Perencana harus
sungguh- sungguh memahami hakikat tujuan yang ingin dicapai. Menyusun rencana
merupakan salah satu fungsi organik yang harus dilakukan oleh setiap manajer.
3) Pemenuhan
keahlian teknis. Penyusunan suatu rencana yang kemudian disahkan manajer
kemudian diserahkan kepada orang- orang yang memiliki berbagai jenis keahlian
yang diperlukan. Agar rencana yang disusun itu terpadu dan komprehensif, maka
anggota tim harus mampu bekerja sama sebagai satu tim yang kompak.
4) Rencana harus
disertai oleh suatu rincian yang cermat. Maksutnya, rencana tidak hanya
mengandung jawaban terhadap pertanyaan: apa, di mana, bilamana, siapa dan
mengapa. Tetapi, juga disertai penjabaranya dalam bentuk program kerja yang
menyangkut segi kehidupan organisasi.
5) Keterkaitan
sebuah rencana dengan pelaksanaannya. Jika dikatakan bahwa suatu
rencana merupakan suatu bentuk keputusan, berarti hanya mempunyai
makna bila dilaksanakan. Tepat tidaknya suatu rencana bukan terlihat dari cara
perumusanya, tetapi pada pelaksanaanya.
6) Kesederhanaan.
Maksudnya adalah, kesederhanaan merupakan ciri rencana menyangkut berbagai hal
seperti teknik penyusunannya, bahasanya, sistematikanya, formatnya, serta
penekanan berbagai prioritasnya dan memperoleh pengertian yang sama dengan
perencana. Kesederhanaan harus tidak mengurangi pentingnya kelengkapan rencana
B.Unsur-Unsur Perencanaan
Tujuan.
Suatu rencana yang akan dilaksanakan harus mempunyai
tujuan yang jelas dan mempunyai batasan akan tujuan tersebut (fokus). Dalam
batasan ini dirinci tentang limit waktu yang akan dipakai, bagaimana cara
pencapaian tujuan tersebut dan lain sebagainya.
Politik.
Yang dimaksud dengan politik ini adalah kewenangan,
delegasi dan pertanggung jawaban dalam pelaksanaan sebuah rencana. Sehingga
tujuan yang telah direncanakan akan berhasil.
Prosedur,
merupakan urutan tindakan atau kegiatan yang
terorganisir dalam rangka pencapaian tujuan tersebut.
Anggaran atau budget
merupakan bagian yang tak terpisahkan dalam pencapaian
tujuan. Anggaran ini harus dibuat serealistis mungkin, sehingga beban dari
pelaksanaan ini tidak tidak lah begitu berat.
Program, merupakan gabungan dari politik, prosedur dan
anggaran serta perlu adanya alternatif tujuan bilamana tujuan utamanya tidak
tercapai sebagaimana yang diharapkan.
C.Jenis-Jenis Perencanaan
Menurut Asnawir Ada tujuh
jenis-jenis perencanaan, yang kesemua itu dilihat dari sudut pandang berbeda,
di antara jenis-jenis perencanaan tersebut adalah:
Dilihat dari segi waktu
Dari segi waktu perencanaan dapat dibagi menjadi tiga
yaitu:
Perencanaan jangka panjang, yang termasuk dalam
perencanaan jangka panjang adalah rentang waktu sepuluh sampai tiga puluh
tahun. Perencanaan jangka panjang ini bersifat umum, dan belum terperinci.
Perencanaan jangka menengah, jangka menengah biasanya
mempunyai jangka waktu antara lima sampai sepuluh tahun.
Perencanaan jangka pendek, yaitu perencanaan yang
mempunyai jangka waktu antar satu tahun sampai lima tahun.
Dilihat dari segi sifatnya
Perencanaan dibagi menjadi dua yaitu:
Perencanaan kuantitatif, yang termasuk perencaan
kuantitatif adalah semua target dan sasaran dinyatakan dengan angka-angka.
Perencanaan kualitatif adalah perencanaaan yang ingin
dicapai dinyatakan secara kualitas.
Perencanaan dari segi luas wilayah
Perencanaan pendidikan dipandang dari segi luas
wilayah dapat dibagi menjadi empat, yaitu:
Perencanaan local, yaitu perencanaan yang disusun dan
ditetapkan oleh lembaga-lembaga yang ada di daerah-daerah dengan sifat yang
terbatas.
Perencanaan regional adalah perencanaan yang
ditetapkan di tingkat propinsi.
Perencanaan nasional, adalah perencanaan di suatau
Negara dan dijadikan dasar untuk perencanaan local dan regional.
Perencanaan internasional yaitu perencanaan oleh
bebebrapa Negara yang melewati batas-batas suatu negara yang dilaksanakan
melalui dari Negara-negara tersebut.
Perencanaan dari segi luas jangkauan
Terbagi menjadi dua yaitu:
Perencanaan makro yaitu perencanaan yang bersifat
universal, menyeluruh dan meluas.
Perencanaan mikro adalah perencanaan yang ditetapkan
dan di susun berdasarkan kondisi dan situasi tertentu.
Dari segi prioritas pembuatnya
Perencanaan dapat dibagi menjadi tiga:
Perencanaan sentralisasi, yaitu perencanaan yang
ditentukan oleh pemerintah pusat pada suatu Negara.
Perencanaan desentralisasi yaitu perencanaan yang di
susun oleh masing-masing wilayah.
Perencanaan dekonsentrasi yaitu perencanaan gabungan
antara sentralisasi dengan desentralisasi.
Dari segi obyek
Perencanaan dibagi menjadi dua:
Perencanaan rutin yaitu perencanaan yang di susun
untuk jangka waktu tertentu yang dilakukan setiap tahun.
Perencanaan eksendental, yaitu perencanaan yang di
susun sesuai dengan kebutuhan yang mendesak pada saat tertentu.
Dari segi proses
Perencanaan dapat dibagi menjadi tiga kelompok:
Perencanaan filosofikal, yaitu perencanaan yang
bersifat umum, hanya berupa konsep-konsep dari nilai yang bersifat ideal dan
masih memerlukan penafsiran-penafsiran dalam bentuk program.
Perencanaan programial adalah perencanaan berupa
penjabaran dari perencanaan filosofikal.
Perencanaan operasional yaitu perencanaan yang jelas
dan dapat dilakukan.
Ada juga yang membagi jenis perencanaan menjadi 2
jenis, yaitu:
1. Rencana strategik
Yang disusun untuk mencapai tujuan umum organisasi,
yaitu melaksanakan misi organisasi. Sering juga disebut Perencanaan Jangkah
Panjang (longe range planning) adalah proses pengambilan keputusan yang
menyangkut tujuan jangka panjang organisasi, kebijakan yang harus diperhatikan,
serta strategi yang harus dijalankan untuk mencapai tujuan tersebut. Untuk
melaksanakan strategi tersebut harus pula disusun program kerja yang terinci,
mencakup kegiatan yang harus dilakukan, kapan harus dimulai, kapan harus
selesai, dan siapa yang harus bertanggung jawab, serta sumber daya manusia yang
diperlukan. Singkatnya perencanaan strategik adalah proses perencanaan jangka
panjang yang sudah diformalkan, yang digunakan untuk merumuskan tujuan
organisasi serta cara menghadapinya.
2. Rencana operasional
Yang merupakan rincian tentang bagaimana rencana
strategik dilaksanakan. Rencana Operasional terdiri atas bentuk , yaitu : (1)
rencana sekali pakai (single use plan) yakni rencana yang disusun untuk
mencapai tujuan tertentu dan dibubarkan segera setelah tujuan ini tercapai; (2)
rencana permanen (standing plans), yakni pendekatan pendekatan yang sudah di
standarisasi untuk menghadapi situasi berulang dan dapat diramalkan sebelumnya.
3. Bentuk – bentuk struktur
organisasi dan kelemahan dan kebaikannya
1. Organisasi Lini
Organisasi Garis / Lini adalah suatu bentuk organisasi dimana pelimpahan wewenang langsung
secara vertical dan sepenuhnya dari kepemimpinan terhadap bawahannya
Bentuk lini juga disebut bentuk lurus
atau bentuk jalur. Bentuk ini merupakan bentuk yang dianggap paling tua dan
digunakan secara luas pada masa perkembangan industri pertama. Organisasi Lini
ini diciptakan oleh Henry Fayol.
·
1. Hubungan antara pimpinan &
bawahan masih bersifat langsung melalui satu garis wewenang
·
2. Selain top manajer , manajer
dibawahnya hanya sebagai pelaksana
·
3. Jumlah karyawan sedikit
·
4. Sarana dan alatnya terbatas
·
5. Bentuk lini pada perusahaan
perseorangan, pemilik perusahaan adalah sebagai top manajer
·
6. Organisasi kecil
Kebaikan
dari struktur organisasi ini adalah :
·
1. Atasan dan bawahan
dihubungkan dengan satu garis komando.
·
2. Rasa solidaritas dan spontanitas seluruh
anggota organisasi besar
·
3. Proses decesion making berjalan cepat
·
4. Disiplin dan loyalitas tinggi
·
5. Rasa saling pengertian antar anggota
tinggi
· Kelemahan
dari struktur organisasi ini adalah :
·
1 Ada tendensi gaya kepernimpinan
otokratis
·
2 Pengembangan kreatifitas karyawan
terhambat
·
3 Tujuan top manajer sering tidak bisa
dibedakan dengan tujuan organisasi
·
4 Karyawan tergantung pada satu orang
dalam organisasi
Gambar struktur organisasi Lini :
2. Organisasi
Lini dan Staf
Organisasi Lini dan Staf adalah kombinasi dari organisasi lini dan organisasi fungsional.
Pelimpahan wewenang dalam organisasi ini berlangsung secara vertikal dari
seorang atasan pimpinan hingga pimpinan dibawahnya. Untuk membantu kelancaran
dalam mengelola organisasi tersebut seorang pimpinan mendapat bantuan dari para
staf dibawahnya. Tugas para staf disini adalah untuk membantu memberikan
pemikiran nasehat atau saran-saran, data, informasi dan pelayanan kepada
pimpinan sebagai bahan pertimbangan untuk menetapkan suatu keputusan atau
kebijaksanaan. Pada struktur organisasi ini Hubungan antara atasan dengan
bawahan tidak secara langsung
Ciri :
Ciri :
·
1 Hubungan atasan dan bawahan tidak
seluruhnya secara langsung
·
2 Karyawan
banyak
·
3 Organisasi besar
·
Ada dua kelompok kerja dalam organisasi sehingga ditekankan
adanya spesialisasi:
·
1. Personel lini
·
2. Personel staf
· Kebaikan
dari struktur organisasi ini adalah :
·
1 Ada pembagian tugas yang jelas
·
2 Kerjasama dan
koordinasi dapat dilaksanakan dengan jelas
·
3 Pengembangan
bakat segenap anggota organisasi terjamin
·
4 Staffing
dilaksanakan sesuai prinsip the right man on the right place
·
5 Bentuk
organisasi ini fleksibel untuk diterapkan
· Kelemahan
dari struktur organisasi ini adalah :
·
1 Tugas
pokok orang-orang sering dinomorduakan
·
2 Proses decesion makin berliku-liku
·
3 Jika pertimbangan
tidak terkontrol maka sering menimbulkan nepotism spoilsystem patronage
·
4 Persaingan
tidak sehat antara pejabat yang satu dengan pejabat lainnya
Gambar struktur organisasi Lini dan Staf
3. Organisasi Fungsional
Organisasi fungsional diciptakan oleh
F.W.Taylor yaitu suatu bentuk organisasi di mana kekuasaan
pimpinan dilimpahkan kepada para pejabat yang memimpin satuan di bawahnya dalam
satuan bidang pekerjaan tertentu. Struktur ini berawal dari konsep adanya
pimpinan yang tidak mempunyai bawahan yang jelas dan setiap atasan mempunyai
wewenang memberi perintah kepada setiap bawahan, sepanjang ada hubunganya
dengan fungsi atasan tersebut
Ciri :
Ciri :
·
1 Organisasi kecil
·
2 Di dalamnya terdapat kelompok-kelompok
kerja staf ahli
·
3 Spesialisasi dalam pelaksanaan tugas
·
4 Target yang hendak dicapai jelas dan
pasti
·
5 Pengawasan dilakukan secara ketat
· Kebaikan
dari struktur organisasi ini adalah :
·
1 Program
tearah, jelas dan cepat
·
2 Anggaran,
personalia, dan sarana tepat dan sesuai
·
3 Kenaikan pangkat pejabat fungsional
cepat
·
4 Adanya pembagian tugas antara kerja
pikiran dan fisik
·
5 Dapat dicapai tingkat spesialisasi
yang baik
·
6 Solidaritas antar anggota yang tinggi
·
7 Moral serta disiplin keija yang tinggi
·
8 Koordinasi antara anggota berjalan
dengan baik
·
9 Mempromosikan ketrampilan yang
terspesialisasi
·
10 Mengurangi duplikasi penggunaan sumber daya yang terbatas
·
11 Memberikan kesempatan karir bagi para tenaga ahli spesialis
· Kelemahan
dari struktur organisasi ini adalah :
·
1 Pejabat fungsional bingung dalam
mengikuti prosedur administrasi
·
2 Pangkat pejabat fungsional lebih tinggi
dibandingkan kepala unit sehingga inspeksi sulit dilaksanakan
·
3 Insiatif perseorangan sangat dibatasi
·
4 Sulit untuk melakukan pertukaran
tugas, karena terlalu menspesialisasikan diri dalam satu bidang tertentu
·
5 Menekankan pada rutinitas tugas - kurang
memperhatikan aspek strategis jangka panjang
·
6 Menumbuhkan perspektif fungsional yang
sempit
·
7 Mengurangi komunikasi dan koordinasi
antar fungsi
·
8 Menumbuhkan ketergantungan antar-fungsi dan
kadang membuat koordinasi dan kesesuaian jadwal kerja menjadi sulit dilakukan
Dan tipe
fungsional ini relevan untuk situasi seperti berikut :
·
1. Lingkungan stabil
·
2. Tugas bersifat rutin dan tidak banyak
perubahan terjadi
·
3. Mengutamakan efisiensi dan
kapabilitas fungsional
Gambar struktur organisasi Fungsional
4. Organisasi Lini dan
Fungsional
Organisasi Lini dan Fungsional adalah organisasi yang masing-masing anggota mempunyai wewenang yang
sama dan pimpinannya kolektif. Organisasi Komite lebih mengutamakan pimpinan,
artinya dalam organisasi ini terdapat pimpinan “kolektif/ presidium/plural
executive” dan komite ini bersifat managerial. Komite dapat juga bersifat
formal atau informal,komite-komite itu dapat dibentuk sebagai suatu bagian dari
struktur organisasi formal, dengan tugas-tugas dan wewenang yang dibagi-bagi
secara khusus.
Ciri :
·
1 Tidak tampak adanya pembedaan tugas
pokok dan bantuan
·
2 Spesialisasi secara praktis pada
pejabat fungsional
·
3 Pembagian kerja dan wewenang tidak
membedakan perbedaan tingkat eselon
·
4 Strukutur organisasi tidak begitu kompleks. Biasanya terdiri
dari ketua, sekretaris, bendahara, ketua-ketua seksi, dan para perugas
·
5 Struktur organisasi secara relatif tidak
permanea. Organisasi ini hanya dipakai sesuai kebutuhan atau kegiatan
·
6 Tugas pimpinan dilasanakan secara kolektif
·
7 Semua anggota pimpinan mempunyai hak,
wewenang dan tanggung jawab yang sama
·
8 Para pelaksana dikelompokkan menurut
tugas-tugas tertentu dalam bentuk satgas
· Kebaikan
dari struktur organisasi ini adalah :
·
1 Solodaritas tinggi
·
2 Disiplin tinggi
·
3 Produktifitas tinggi karena
spesialisasi dilaksanakan maksimum
·
4 Pekerjaan-pekerjaan yang tidak rutin
atau teknis tidak dikerjakan
·
5 Keputusan dapat diambil dengan baik
dan tepat
·
6 Kecil kemungkinan penggunaan kekuasaan
secara berlebihan dari pimpinan
·
7 Usaha kerjasama bawahan mudah digalang
· Kelemahan
dari struktur organisasi ini adalah:
·
1 Kurang fleksibel dan tour of duty
·
2 Spesialisasi memberikan kejenuhan
·
3 Proses pengambilan keputusan agak
larnban karena harus dibicarakan terlebih dahulu dengan anggota organisasi
·
4 Kalau terjadi kemacetan kerja, tidak
seorang pun yang mau bertanggung jawab melebihi yang lain
·
5 Para pelaksana sering bingung, karena
perintah datangnya tidak dari satu orang saja
·
6 Kreativitas nampaknya sukar
dikembangkan, karena perintah pelaksanaan didasarkan pada kolektivitas
Organisasi panitia biasanya terdiri dari
ketua, sekretaris, bendahara, dan beberapa seksi
Gambar struktur organisasi Lini dan
Fungsional
5. Organisasi Matrik
Organisasi matrik disebut juga sebagai
organisasi manajemen proyek yaitu organisasi di mana penggunaan struktur
organisasi menunjukkan di mana para spesialis yang mempunyai ketrampilan di
masing-masing bagian dari kegiatan perusahaan dikumpulkan lagi menjadi satu
untuk mengerjakan suatu proyek yang harus diselesaikan
Organisasi matrik digunakan berdasarkan
struktur organisasi staf dan lini khususnya di bidang penelitian dan
pengembangan
Organisasi matrik akan menghasilkan
wewenang ganda di mana wewenang horisontal diterima manajer proyek sedangkan
wewenang fungsionalnya yaitu sesuai dcngan keahliannya dan tetap akan melekat
sampai proyek selesai, karena memang terlihat dalam struktur formalnya. Sebagai
akibat anggota organisasi matrik mempunyai dua wewenang, hal ini berarti bahwa
dalam melaksanakan kegiatannya para anggotanya juga harus melaporkan kepada dua
atasan
Untuk mengatasi masalah yang mungkin
timbul, biasanya manajer proyck diberi jaminan untuk melaksanakan wewenangnya
dalam memberikan perintah di mana manajer proyek tersebut akan langsung lapor
kepada manajer puncak
· Kelebihan
dari struktur organisasi ini adalah :
Pada fleksibelitas dan kemampuannya
dalam memperhatikan masalah-masalah yang khusus maupun persoalan teknis yang
unik serta pelaksanaan kegiatan organisasi matrik tidak mengganggu struktur
organisasi yang ada
· Kelemahan
dari struktur organisasi ini adalah :
Manajer proyek tak bisa mengkoordinir
berbagai bagian yang berbeda hingga menghadapi kesulitan dalam mengembangkan
team yang terpadu dikarenakan penyimpangan pclaksanaan perintah untuk
masing-masing individu. Untuk mengatasi kesulitan yang mungkin timbul, maka
manajer proyek biasanya diberi wewenang khusus yang penting, misalnya: dalam
menentukan gaji, mempromosikan atau melakukan perlakuan personalia
Gambar struktur organisasi Matrix
6. Organisasi Komite
Organisasi komite
adalah bentuk organisasi di mana tugas kepemimpinan dan tugas tertentu dilaksanakan secara kolektif oleh sekelompok pejabat, yang berupa
komite atau dewan atau board dengan
pluralistic manajemen
Organisasi komite terdiri dari :
1 Executive Committe (Pimpinan komite)
Yaitu para anggotanya mempunayi
wewenang lini
2 Staff Committee
Yaitu orang-orang yang hanya mempunyai
wewenang staf
· Kelebihan
dari struktur organisasi ini adalah :
·
1 Pelaksanaan decision making
berlangsung baik karena terjadi musyawarah dengan pemegang saham maupun dewan
·
2 Kepemimpinan yang bersifat otokratis
sangat kecil
·
3 Dengan adanya tour of duty maka
pengembangan karier terjamin
Kelemahan
dari struktur organisasi ini adalah :
·
1 Proses decesion making sangat lamban
·
2 Biaya operasional rutin sangat tinggi
·
3 Kalau ada masalah sering kali terjadi
penghindaran siapa yang bertanggung
Langganan:
Postingan (Atom)




